rabutigajuniduaribuempat
Sepertinya merah sudah kembali meredam,
sekarang hanya tinggal semangat jingga yang memancar dari sini (menunjuk ke otak)
lalau juga disini (lalau ke dada).
Mungkin merelakan kehilangan sosoknya kemarin,
membiarkan dia tenggelam timbul seperti surya.
Segalanya memang bukan suatu kebodohan,
yang bodoh adalah membiarkan diriku tersengat terus-menerus.
Tak berguna payung atau sunblock, tapi itu DULU kemarin..
Sekarang kedua benda itu selalu ada di tas-ku,
kalau-kalau aku lupa membawanya, aku yakin ada temapt untuk berteduh.
Sekalipun itu segulung koran bekas, seperti saat aku pergi sekolah dan ada hujan rintik,
beliau dengan sigap memberikan koran yang baru selesai dibacanya.
Walau keyakinan bisa mewujudkan harapan
tetap kita butuh sesuatu yang benar-benar ada..!
HmppHHff!!
October 3rd, 2005 at 12:39 am
maksudnya apa sie mpokkk..
jualan koran…
jualan kosmetik…
ato apaan???
October 13th, 2005 at 12:03 pm
bagus…
November 13th, 2005 at 5:39 pm
tidak seperti kemarin, aku tak lagi bersamanya.Karena dia tak membutuhkanku lagi, mungkin. Atau aku pesimis dia membutuhkanku, atau aku pengecut tak berani menawarkannya. Jangan jangan karena aku egois. Tapi sudahlah, toh dia sudah hilang (lagi) dari mataku. Walau (mungkin) tidak dari hatiku. Lalu kenapa masih tersisa pedih ini di tubuh. Kucari dimana. Ah… darah hitam berjelaga keluar dari hatiku. Biar… biarlah… kututup saja dengan selembar koran. Lalu, apa yang kutawarkan untuknya jika hujan datang?
To Fill The Emptines
http://pangerankucing.wordpress.com/